jam tangan

Posted On June 13, 2010

Filed under cerita
Tags:

Comments Dropped leave a response

“Bener-bener reset uh anak!” Ayu mulai ngrumpi sama ketiga teman dekatnya, Irna, Evi dan Pipit.

“Siapa? Gemal?” sahut Evi.

“Iya, siapa lagi kalau bukan Gemal? Gembul kurang ajar itu!”

“Memangnya dia ngapain lagi ke elu?” Tanya Evi.

“Masa type-x gue diilangin lagi, kemaren lusa dia udah pinjem bullpen gue. Eh, sampe sekarang kaga dibalikin juga! Kalo ditagih katanya gak tau! Emang dasar cowok sialan!” kata Ayu sok centil.

Sejak SMP keduanya memang sudah satu SMP, namun mereka berdua belum pernah sekelas. Apalagi Ayu waktu SMP masuk dalam kelas unggulan. Mereka baru satu kelas saat keduanya masuk di kelas dua. Dan sekarang mereka sudah kelas tiga SMA dan sebentar lagi mereka akan lulus dari SMA. Ayu termasuk anak yang cerdas diantara teman-temannya. Tapi sifat Ayu juga tidak begitu baik. Karena dia sangat kaya, tak heran kalau dia memakai aksesoris yang begitu mencolok. Bahkan tak heran kalau ketemu Ayu di jalan mengendari mobil bersama ketiga sahabatnya itu. Berbeda dengan Gemal, dia hanyalah anak pas-pasan. Orang tuanya hanyalah pedagang di kios pasar. Gemal juga tidak begitu pandai, dia lebih sering memutuskan masalah dengan otot saja.

“Apalagi kalau ujian. Dia sering nyontek gue, secara nama gue Gian Ayu dan dia Gemal Yudhistira, kami duduk berdekatan.” Cerocos Ayu lagi sambil memandang Gemal.

Tiba-tiba Gemal juga memandang Ayu, merekapun saling memandang.

“Ngapain lihat-lihat?! Naksir ya sama gue?? Hahahaha….” Ucapnya yang muncul dari Gemal yang sambil memabawa gorengan dari kantin.

“Iiih… siapa juga yang ngeliatin elo? GR!” dengan muka jijiknya Ayu langsung memalingkan mukanya dan langsung ngerumpi lagi sama teman-temannya, kaya tante-tante yang lagi arisan. Bel sekolah berbunyi menandakan jam pulang sekolah.

Siang itu Gemal langsung cabut pulang. Tapi kali ini Gemal tidak langsung pulang ke rumah melainkan mampir dulu di sebuah mall. Di sebuah counter yang berjualan aksesoris sama jam tangan. Gemal terlihat sedang menawar sebuah jam tangan.

“Mbak, berapa harga jam yang ini?” Tanya Gemal.

“Kalau yang ini harganya Rp. 350.000.”

“Mahal amat sih Mbak, gak bisa ditawar? 200 atau 150 ribu deh…” tawar Gemal sambil memasang muka sok melas.

Dari kejauhan ternyata ada Ayu cs yang ternyata sedang berada di mall itu juga. Merekapun menghampiri Gemal. Sambil mendengarkan apa yang diomongin mereka.

“Wah, gak bisa mas. Ini sudah pas, nggak bisa ditawar lagi.”

“Kalau yang ini berapa?” Gemal nanya lagi sambil nunjuk salah satu jam tangan yang lain.”

“Kalau yang ini lebih mahal lagi. ini harganya Rp. 395.000.” jawab penjaga konter.

“Whoi! Ngapain mas? Mau gaya lo?! mau gaya gak punya duit.” Tiba-tiba Ayu menyahut.

“Ngapain lu kesini?”

“Terserah gue dong, emang ini mall punya bokap lu? Mau gue bayarin ni sisa duit shopping gue mau beli lima jam juga bisa.” Jawab Ayu dengan gaya tengilnya.

“Sialan lo! mendingan lo urusin deh jerawat di jidat lu itu! Gak usah ngurusin orang lain.”

“Siapa juga yang mau urusin lo, guys ayo ke XXI, udah mulai ni filmnya.” Ayu sambil ngaajak ketiga temannya itu.

“Iya, buruan yuk! Sudah jam setengah empat ni.” Sahut Irna.

Ayu cs pun meninggalkan Gemal dan menuju XXI di lantai mall yang paling atas. Sedangkan Gemal juga meninggalkan counter ttersebut lalu beranjak pulang.

Dua hari telah berlalu.

“Mal, ayo main futsal.” Ajak Faisal teman sebangkunya, saat jam pulang sekolah.

“Wah, sori Bos. Gue gak bisa maen sekarang. Gue ada acara.”

“kenapa sih gak mau maen? Padahal gue udah booking, gak seru kalo gak ada elo!” kata Faisal.

“Iya ni. Kenapa sih lo? Akhir-akhir ini lo jadi sok sibuk, kemaren gue ajak maen PS juga gak bisa!” tambah Erwan.

“Iya sori… kapan-kapan gue ikutan maen deh! Ya udah gue duluan ya…” jawab Gemal.

“Iih, beneran cabut tu anak! Da apa sih sebenernya tu anak? Aneh…” Hasan juga ikut curiga.

“Iya gue juga kagak tau, dia gak cerita sama gue.” Jawab Faisal.

Kembali lagi ke Ayu dan ketiga temannya, seperti biasa mereka berempat jalan dengan sok centil. Dengan gaya serta omongan mereka yang gak mau diam, sudah ketahuan dari jauh. Mereka berempat berencana untuk jalan-jalan ke sebuah factory outlet yang menjual tas serta sepatu.

“Guys, ayo buruan deh. Ntar keburu tutup, udah sore ni…” Ayu sudah nggak sabaran. Mereka langsung ke rumah Ayu dan langsung cabut menuju FO yang mereka inginkan tadi.

Di tengah jalan tiba-tiba Ayu mengerem mobilnya.

“Yu, ada apa? Kok tiba-tiba berhenti?” Tanya Evi?

“Lihat deh, itu Gemal kan?”

“Yang mana?” pipit ganti bertanya.

“Itu lho yang pake topi orange sambil meniup peluit dan mengatur mobil yang sedang parkir di samping itu.”

“Iya bener itu Gemal.” Kata Evi.

“Irna, lo masih bawa kamera digital tadi pagi kan?”

“Iya, masih gue bawa. Buat apaan?” Tanya Irna.

“Udah lo diem aja, sini gue pinjem.” Minta Ayu.

Ayo memfoto Gemal yang sedang jadi tukang parkir. Ayu mempunyai niat buruk untuk ngerjain Gemal. Rencananya mereka akan menempel foto Ayu di mading sekolahnya besok pagi. Dan ketiga temannya mengangguk setuju.

Keesokan harinya saat di SMA, mading SMA sudah terpasang jelas dua buah foto Gemal yang sedang meniup peluit sambil mengenakan topinya. Warga SMA pun menjadi gempar. Saat jam istirahat pertama hampir setiap anak kelas tiga mengetahui hal tersebut. Faisal dan Wawan juga sempat melihat foto itu.

“Jadi ini ya yang dilakukan Gemal akhir-akhir ini.” Cetus Erwan.

“Iya kali! Tapi siapa sih yang nempel-nempel kaya gini? Bener-bener nggak punya perasaan.” Kata Faizal.

“Benar yang lo bilang. Kasihan juga Gemal. Mukanya pas di kelas kelihatan sangat murung.”

Tak beberapa lama kemudian pihak sekolah melepas kedua foto Gemal. Karena kejadian tersebut sudah membuat sekolahan menjadi gempar. Namun demikian kabar mengenai Gemal menjadi tukang prkir sudah diketahui para murid.

Bel sekolahpun berbunyi, tanda waktunya pulang sekolah. Gemal kelihatan murung saat keluar dari ruang kelasnya.

“Kenapa? Kok mukanya kucel amaat…” ledek Ayu ketika Gemal melewati Ayu cs. Gemal hanya diam saja dan langsung pergi saja tanpa satu kata muncul dari mulutnya. Dia pasti sangat jengkel, tetapi meski agak bandel gemal tidak pernah menyakiti cewek.

“Eh, ditanya bukannya jawab malah diem aja.”

Ayu cs merasa sangat puas, terutama Ayu. Dia merasa mendapatkan kemenangan dari sebuah turnamen.

Keesokan harinya Gemal tidak masuk sekolah. Anak-anak yang lain heran, terutama Ibu Munji sebagai wali kelas. Meskipun sering ikut tawuran sama STM sebelah, namun Gemal termasuk anak yang tidak pernah bolos sekolah, bahkan dia juga sering mencatat saat di kelas, meski tidak pernah dia baca.

“Sal, Gemal kemana kok hari ini tidak masuk? “ Tanya Bu Munji ke Faisal.

“Waduh, saya sendiri tidak tau, Bu.” Jawab Faisal.

“Mungkin malu kali, atas kejadian kemaren.” Ayu langsung menyahut  tanpa disuruh. Kemudian Ayu cs tertawa kecil sendiri, menunjukkan mereka sangat puas atas kejadian kemarin.

“Tidak kok Bu. Kalau setahu saya meskipun kemarin Gemal sangat jengkel, tapi dia bukan anak pendendam. Dia biasanya langsung cuek dengan kejadian yang sudah berlangsung.” Kata Faisal.

“Iya Bu, setau saya Gemal juga tidak seperti itu. Dia pasti sudah nggak ngurusin kejadian kemarin.” Isna juga menambahkan.

“Ya sudah. Kalian sebagai teman gemal tolong cari tahu, kenapa dia tidak masuk hari ini, takutnya dia kenapa-kenapa.”

“Iya Bu, nanti kalau saya ada waktu mau main ke rumah Gemal.” Jawab Faisal.

Waktu sekolah telah selesai, Ayu cs langsung cabut dan menuju mall yang kemarin. Seperti biasa mereka shopping apa aja yang sebenarnya nggak begitu penting untuk dibeli. Seperti kalung, atau aksesoris cewek lainnya. Dan kalau mereka sudah capek seperti biasa mereka nonton di XXI.

Gemal ternyata juga berada di dalam mall tersebut. Gemal sepat melihat Ayu cs, namun di sengaja menghindar dan tidak mau ketemu dia. Mungkin dia sendiri masih males karena di ejekin saat pulang kemarin. Kali ini Gemal menuju ke sebuah perlengkapan menggambar. Di sana, dia membeli beberapa cat, beserta spidol. Walaupun pelajaran akademik Gemal tidak pandai tapi dalam hal menggambar dia memang jagonya.

Kemudian Gemal menuju counter yang berjualan aksesoris serta jam tangan yang kemarin dia tuju. Kali ini dia berhasil membeli sebuah jam tangan yang lumayan bagus. Kemudian Gemal pulang, karena sudah mulai senja.

Pagi hari terasa sangat segar. Dan hari ini Ayu ulang tahun. Ayu keluar dari kamarnya.

“Eh, anak Mama sudah bangun. Ke sini sayang, selamat ulang tahun ya…” sambil mencium pipi Ayu, Mamanya mengucapkan selamat.

“Masih ingat saja Mama sama ultahku.”

“Ya iyalah, Mama kan yang ngelahirin kamu. Masa lupa? Gimana sih?”

“Iya, iya… makasih ya Ma…”

“Udah sekarang buruan mandi habis itu sarapan.” Perintah Mamanya.

“Iya, Ma…”

Saat mau mandi di hati kecilnya pengen banget ulang tahun kali ini dirayakan. Maklum, ulang tahun kali ini yang ke 17 untuknya. Ayu membuka hapenya.

“Kucrut! Kenapa temen-temen gue nggak pada ngasih ucapan ultah gue ya? Sial! Masa mereka lupa sih?”

Ayu pun bergegas mandi, setelah mandi, Ayu langsung sarapan dan bergegas untuk berangkat ke sekolah.

“Pa, Ma, Ayu berangkat sekolah dulu ya.” Pamit Ayu.

“Ya sudah, hati-hati…”

“Iya Ma…” sahut Ayu yang sudah sampai depan pintu.

Kali ini Ayu terkejut melihat kelasnya yang sudah berubah menjadi tempat seperti pesta. Pernak-pernik di mana-mana dan ada spanduk bertuliskan “Selamat Ulang Tahun Ayu” dengan gambar-gambar lucu di sekitar spanduk itu. Sedikit terharu dia melihat kelasnya dari jauh. Ketika masuk ke dalam kelas tidak ada orang kecuali dirinya. Ketika berjalan ke tempat duduknya, ia terkejut melihat Gemal dengan seragam putih abu-abunya tertidur di lantai dengan tangan yang belepotan cas bekas mencat spanduk dan ada beberapa ruang kelas yang ia cat dengan nekatnya.

“GEMAL!!!” teriak Ayu spontan, saat itu juga Gemal terbangun dan langsung bengong. Beberapa saat kemudian Gemal bangkit dan mengambil sesuatu dari bangkunya.

“Wah, gue nggak tau kalo lo datangnya pagi banget. Gue nyiapin ni mulai dari kemaren malem. Yah lo datang duluan jadi gak surprise lagi. hehe…” Gemal mulai ngoceh di hadapan Ayu.

“Ya, cuma ini yang bisa gue lakuin buat lu. Happy Birthday ya…” ucapnya sambil memberikan kado kecil yang dibungkus dengan rapi. Ayu terdiam dan ketika ia membuka kado itu ternyata isinya adalah jam yang dilihatnya dulu ketika bertemu dengan Gemal di Mall.

“Mahal juga tuh jam, ampe bela-belain jadi tukang parkir, ngamen sana-sini dan kerja di toko orang. Tapi cuma jam itu yang pantes menurut gue buat elo Yu. Walau mungkin gak berharga di mata lo, tapi gue pengen banget ngeliat lo pake jam itu. Gue sebenernya sedih juga bentar lagi kita udah lulus dan pisah ama temen-temen. Maafin kelakuan gue selama ini ya Yu… gue gak rela pisah dari lu dan gak ketemu lo lagi nanti. Cumin ini yang bisa gue lakuin sebelum kita berpisah nanti. Gue sayang sama Ayu.” Gemal tersenyum di depan Ayu.

Ayupun menangis, memeluk Gemal dan meminta maaf atas semua perbuatannya.

Advertisements